Fyuh, akhirnya kita bisa juga sampe di bulan penuh maghfirah ini.Tapi, capek juga yah, apalagi menghadapi tahun ajaran baru di kampus ITTelkom.Yupz! kini aku sudah mahasiswa loh!hehehe....tapi agak kaget waktu pertama kali puasa jauh dari orang tua.pertama kali terawih di MSU,tidak di masjid di rumah, bener-bener pengen pulang.... Tapi.... Semangat!!!! Allahu Akbar!!! Aku yakin aku pasti bisa.
Ayo cari ampunaNya! Ayo cari pahalaNya! Jangan di sia-siakan!
Suatu hari, ada seorang anak kecil yang ,dia benar-benar merasa kehausan di siang yang terik, diapun kemudian merengek kepada ibunya minta dibelikan es krim, dia membayangkan,betapa enaknya minum eskrim di panas-panas yang terik,tapi apa yang dilakukan ibunya?Sang Ibu hanya memberikan air putih biasa, anak itupun menangis,mungkin di dalam hatinya terbesit pikiran bahwa ibunya pelit,tidak punya uang atau tidak sayang kepadanya.
Tapi apa yang dilakukan ibunya adalah benar, ternyata sang anak mudah terkena pilek kalau minum es, Sang Ibu lebih melihat kepada efek kedepan daripada nikmat sesaat.Sang Ibu memilih air putih yang jauh lebih baik untuk sang anak tadi,walau mungkin sang anak tadi belum memahami dari tindakan Ibunya.
Mungkin kebanyakan kita bertingkah layaknya anak kecil tadi .Kadang apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.Atau malah kita tidak mendapatkan apa-apa.Kadang kita juga mungkin berpikir kalau Allah tidak menyayangi kita,Allah tidak mendengar do,a kita. Tapi itulah yang terbaik dari Allah yang diberikan-Nya kepada kita.Bahwa Allah akan selalu memberikan hambanya yang terbaik.Kita tidak tahu, apakah yang kita minta baik atau tidak.Bahakan mungkin akan mengancurkan kita.Allah akan memberikan terbaik untuk kita.Atau dia akan menggati dengan sesuatu yang lebih baik. Atau bahkan mungkin Allah tidak memberikannya kepada kita,tapi akan digantikan di akhirat kelak, atau menunggu kita menjadi lebih siap untuk mendapatkan apa yang kita minta. Oleh karena itu teman, jangnlah kita berputus asa, tetaplah berdo'a. Mintalah yang terbaik .Karena Allah tahu yang terbaik bagi kita
“Dunia adalah kendaraan seorang mukmin,yang dengannya dia beran
"Dunia
adalah kendaraan seorang mukmin,yang dengannya dia berangkat menuju
Tuhannya.Maka Perbaikilah kendaraan kalian,niscaya ia akan membawa
kepada Tuhan kalian.”(Imam Ali bin Abi Thalib)
Seringkali
kita lupa, bahwa kita hidup di dunia ini bukan tanpa alasan,yaitu
untuk menyembah kepada-Nya,beribadah kepada Allah.
Apapun
yang kita kerjakan,sejatinya adalah untuk-Nya,apa yang kita lakukan
adalah untuk beribadah kepada-Nya. Tapi sudahkah
kita niatkan untuk itu? Seringkali kita terlena oleh kesenangan dunia
dengan segala pernak-perniknya, Harta,Tahta,Wanita(Pria). Ketika kita
sudah terlena oleh itu,maka telah dikuasainya jiwa kita oleh hawa
nafsu kita sendiri.
’Tiga
perkara yang merusak, yaitu sifat kikir yang dituruti,hawa nafsu yang
dituruti dan kebanggan seseorang atas dirinya sendiri.” (HR
al-Bazzar dan Abu Nu’aim)
Teman,ketika
mobil kita rusak, ketika mobil kita kotor, apa yang kita lakukan?
Tentu kita perbaiki mobil kita, kita bersihkan mobil kita, supaya
mobil kita bisa melaju kencang,sampai ditujuan.
Begitu
pula jiwa kita,hati kita. Kendaraan kita menuju Illahi. Ketika jiwa
kita kotor oleh perilaku kita,hati kita kotor oleh prasangka buruk
kita,iri dengki.Terbesitkah untuk memperbaikinya?membersihkannya?
Akankah menunggu sampai tua?
Teman,
bila waktu tak memberi kita kesempatan, tak mengasihani kita, akankah
kita baru mulai membersihkannya ketika semua sudah terlambat?
”Allahuma
ij’alni minattawwaabiin wa ij’alni minal mutathahiriin” (Ya
Allah jadikan aku sebagai bagian hamba-Mu yang bertaubat (bersih
hati) dan jadikan pula aku sebagai bagian hamba-Mu yang bersih
(lahir).
Teman, ketika kita masih diberi nafas
olehNya,masih diijinkan darah mengalir dalam pembuluh kita.Masih ada
waktu untuk memperbaiki diri, memperbaiki semuanya,jiwa kita,hati
kita.
Ayo
teman! Mulailah dari sekarang perbaikillah kendaraan kita, supaya
kita sampai kepada tempat tujuan, yang hakiki.
”Ya
muqallibal qulub tsabbit qalbiy ’ala diinika wa tha,atika.”
(Wahai yang membolak-balikan hati,kuatkan hatiku (berpegang teguh)
dengan agama-Mu dan (istiqomah) dalam taat kepada-Mu).
Ketika aku berangkat ke sekolah, ada rasa agak malas aq berangkat ke sana, entah karena apa.. Tapi yah...namanya kewajiban, seorang muslim wajib memenuhikewajibannya kan.. Apalagi untuk saat ini,harus berangkat untuk cap 3 jari, Aku pun dengan penuh semangat menuju sekolah..
Deg! Tiba-tiba hati ini bergejolak... Terlihat didepan mata, seseorang yang dulu pernah aku sayang...sebelum akhirnya aku menempuh jalan ini.. betapa aku langsung teringat kenangan-kenangan bersamanya.. dan aku merasakan dadaku ynag menjadi sesak...
Astaghfirullah... Kenapa aku ini...Bukankah aku seharusnya bahagia.. ketika aku memilih kepada Illahi robbi,meninggalkan sesuatu yang mengganggu keimananku... kenapa aku harus sedih? Aku harus bangga! Aku harus bersemangat... Memang terasa berat, tapi.. perjuanganku ini belum ada apa-apanya dibanding rasulullah yang harus berhijrah, melawan musuh yang nyata mengancam jiwa... Dan aku berhijrah menuju sesuatu yang baik, menuju jalan Allah,jalan yang damai...penuh kebahagiaan... Dan janji allah pasti benar... Allah tidak akan mensia-siakan hambanya yang berjuang di jalannya.. Ya Allah berilah aku semangat.. Istiqomah...
Aku pun bahagia..
Kehilangan apapun aku rela,asal aku tidak kehilangan Ridho Allah,Pemberi Hati,yang memberi perasaan... Cukuplah bagiku mencintai Allah dan Rasulnya diatas segala-galanya
Nb:Terima kasih buat firman temanku yang tak lelah membimbingku menuju Jalan Allah..
Dua orang pegawai tampak masih sibuk pada pekerjaannya, meski malam sudah mengisyaratkan mereka untuk istirahat. Di gedung megah yang sehari-hari menjadi kantor tempat mereka berkerja itu sudah tidak ada lagi pegawai. Kecuali, petugas keamanan malam.
Salah seorang yang bertubuh kurus pun berujar, "Ah, hari yang melelahkan. Saatnya pulang ke rumah."
Seorang yang agak gemuk hanya menoleh sebentar, kemudian kembali dengan kesibukannya. Ia hanya membalas ucapan temannya yang mulai berkemas dengan senyum. "Aku lembur lagi!" ucapnya singkat.
"Apa kamu tidak kangen dengan isteri dan anak-anakmu?" tanya si kurus mulai beranjak menuju pintu.
"Entahlah, aku merasa lebih nyaman berada di sini," jawab si gemuk sambil terus sibuk dengan pekerjaannya. "Ruangan ini sudah seperti rumahku," tambahnya begitu meyakinkan.
Si kurus menatap temannya begitu lekat. Sebelum langkah kakinya meninggalkan sang teman, ia tergelitik untuk mengucapkan sesuatu, "Menurutku, kamu bukan tidak ingin pulang. Tapi, kamu belum paham apa arti pulang."
** Angan-angan sederhana yang kerap muncul di kepala siapa pun ketika ia begitu lama berada di luar rumah adalah pulang. Seorang pejabatkah, pegawaikah, pengusahakah, pelajar dan mahasiswakah; titik akhir dari akumulasi kelelahannya berinteraksi dengan dinamika hidup selalu tertuju pada pulang.
Kata pulang menjadi perwakilan dari seribu satu rasa yang tertuju pada kerinduan-kerinduan dengan sesuatu yang sudah menjadi ikatan kuat dalam diri seseorang. Sesuatu yang tidak mungkin untuk dipisahkan, karena dari situlah ia berasal dan di situ pula ia menemukan jati dirinya.
Dalam skala hidup yang lebih luas, pulang adalah kembalinya manusia pada asalnya yang tidak mungkin dielakkan. Apa dan bagaimana pun keadaannya, suka atau tidak pun rasa ingin pulangnya, jauh atau dekat pun perginya, dan ada atau tidaknya kerinduan terhadap arah pulang yang satu ini; setiap kita pasti akan 'pulang'.
Walaupun, tidak sedikit orang yang merasa lebih nyaman berada di dunia ini daripada berhasrat menuju 'pulang'. Persis seperti yang diungkapkan si kurus kepada temannya, "Kita bukan tidak ingin 'pulang'. Tapi, kita mungkin belum memahami arti 'pulang'." (muhammadnuh@eramuslim.com)